Homeschooling VS Sekolah Formal, Pilih Yang Mana?

Sekarang mengenyam pendidikan tidak harus datang ke sekolah di jam tertentu. Homeschooling mulai dipilih masyarakat karena dinilai lebih fleksibel dan memudahkan. Tapi apakah menyelenggarakan homeschooling berarti tidak perlu ada guru? Bagaiana dengan kurikulum belajarnya dan bagaimana nanti sang anak harus berkompetisi?

Pertanyaan ini kerap muncul di dalam benak setiap orangtua yang kebingungan memilih antara sekolah formal atau homeschooling. Sebelum memutuskan, berikut ini adalah perbedaan dasar keduanya.

Dari Segi Materi dan Waktu

Sekolah kerap dipilih orangtua karena mereka memiliki sejulamlah tugas sendiri, seperti bekerja dan kesibukan lainnya, sehingga tidak mampu menemani belajar sang anak setiap waktu. Sekolah akan memberikan sejumlah input materi sesuai standar pendidikan yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Jadi anak tinggal mengikuti materi yang sudah jadi dan sudah terpaketkan. Enaknya, karena mereka belajar sesuai standar umum, anak didik sebagian besar akan paham dengan kompetisi yang diinginkan di masa sekarang.

materi & waktu

Sementara untuk homeschooling orangtua memiliki fleksibilitas yang tinggi karena mereka harus setiap waktu berada di dekat si kecil. Untuk materinya orang tua harus kreatif karena tidak semua peralatan tersedia di rumah. Misalnya untuk praktek kimia, dimana anak mulai belajar tentang senyawa. Sejumlah alat peraga mungkin sangat dibutuhkan untuk membuat mereka mengerti. Dan ini yang membedakan sekolah dan homeschooling. Di sekolah, sebagian besar fasilitas seperti ini tersedia.

Sementara untuk waktu, homeschooling memberikan waktu seluas-luasnya. Belajar bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun. Sementara untuk sekolah, anak harus ikut di jam tertentu. Misalkan jam masuk sekolah adalah pukul 7 pagi. Nah, tidak semua anak bisa merasakan bangun pagi karena kondisi terntentu sehingga kadang saat di sekolah tidak maksimal karena masih mengantuk. Sementara dalam dunia homeschooling hal ini bisa diatur sesuai kesiapan anak.

Kehidupan Sosial

interaksi sosial

Kalau dilihat dari segi sosial sebenarnya tergantung di setiap individunya. Hanya saja, dalam sekolah anak punya peluang lebih besar untuk bersosialisasi. Misalnya dalam hal kerja tim. Kurikulum pendidikan sekarang lebih banyak melibatkan tugas kelompok dari pada individu agar anak bisa bersosialisasi dengan baik dan meningkatkan jiwa leadership-nya.

Lain halnya dengan homeschooling. Ketika anak melakukannya sendirian dan hanya dididik oleh seorang guru, hal seperti ini kemungkinan sulit dicapai. Ada sejumlah proyek yang seharusnya bisa dilakukan bersama-sama, malah dilakukan sendirian karena tidak ada partner. Namun demikian, hal ini harus diakali orangtua dengan mengikutkan si kecil kegiatan di luar belajar agar skill sosialisasinya terlatih dengan baik.

Artikel ini dibuat atas kerjasama dengan Mahabet – agen piala dunia 2018.

Dari Segi Biaya

biaya

Kecuali orangtua mampu memanfaatkan barang-barang di sekitaranya,homeschooling akan jauh lebih murah. Pasalnya orangtua membutuhkan media belajar yang membantu si kecil untuk memahami materi dengan baik. Belum lagi fasilitas olahraga dan juga alat peraga di lab. Bisa saja biaya yang dikeluarkan jadi berlipat.

Nah, di sekolah pun juga begitu, apa lagi bila ada kegiatan bersama seperti sumer camp atau proyek besar yang membutuhkan dana ekstra. Sebenarnya ini relatif saja. Namun secara garis besar biaya untuk pendidikan di sekolah lebih murah karena dipikul orang banyak. Namun demikian hal ini harus dipakai secara bergantian. Beda dengan homeschooling yang bisa dipakai sepuasnya, apa lagi kalau anak sangat menyukai bidang tertentu.

Sebenarnya masih banyak perbedaan antara sekolah formal dan homeschooling. Pada dasarnya keduanya punya tujuan yang sama, yaitu mengantarkan anak ke masa depan yang lebih cerah. Kalau di sekolah anak kebanyakan harus menguasai sejumlah mata pelajaran, homeschooling tidak demikian, karena orangtua bisa memfokuskan pada bakat dan minat anak.